Pada tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah, umat Islam di Indonesia memperingati peristiwa Isra Miraj, yang menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini terjadi pada malam hari, sekitar tahun 621 Masehi, dan merupakan perjalanan fisik serta spiritual Nabi Muhammad yang penuh makna. Isra Miraj tidak hanya mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, tetapi juga naik ke langit ketujuh atau Sidratul Muntaha, yang mengubah wajah ibadah dalam Islam hingga kini.
Latar Belakang Peristiwa Isra Miraj
Isra Miraj terjadi pada saat Nabi Muhammad sedang mengalami masa kesedihan yang mendalam. Pada tahun ke-10 kenabian, istri tercinta Nabi, Siti Khadijah, meninggal dunia, disusul oleh paman beliau, Abu Thalib, yang selama ini menjadi pelindung utama dalam perjuangan dakwah. Kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya menyebabkan tekanan besar, terlebih lagi kaum Quraisy semakin menggencarkan penganiayaan terhadap Nabi Muhammad dan umat Islam di Mekkah.
Dalam kondisi yang penuh duka, Nabi Muhammad melakukan perjalanan hijrah ke Thaif untuk mencari perlindungan, namun di sana beliau ditolak. Kesedihan Nabi Muhammad dihapuskan oleh Allah melalui peristiwa Isra Miraj, yang menjadi anugerah besar bagi beliau dan umat Islam.
Urutan Perjalanan Isra Miraj
Isra Miraj dimulai pada malam hari tanggal 27 Rajab. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad melakukan Isra, yakni perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dengan menunggangi hewan bernama Buraq, yang digambarkan memiliki tubuh seperti kuda putih dengan sayap dan ekor burung merak. Perjalanan yang biasanya memakan waktu sebulan, dapat ditempuh dalam semalam atas izin Allah.
Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad memimpin salat dua rakaat bersama para nabi yang datang sebelum beliau. Setelah itu, perjalanan spiritual atau Miraj dimulai. Nabi Muhammad naik ke langit, bertemu dengan para nabi di setiap tingkat langit. Di langit pertama, beliau bertemu dengan Nabi Adam, di langit kedua dengan Nabi Isa dan Yahya, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf, dan seterusnya hingga beliau mencapai Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Di sana, Nabi Muhammad menerima perintah langsung dari Allah untuk melaksanakan salat lima waktu sehari semalam, yang menjadi kewajiban bagi umat Islam sejak saat itu.
Makna Penting Isra Miraj
Isra Miraj bukan hanya sekadar perjalanan fisik Nabi Muhammad, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh hikmah. Peristiwa ini menandai perintah Allah yang sangat penting, yaitu kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam, yang hingga kini menjadi salah satu rukun Islam yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Selain itu, perjalanan ini juga memperkuat kedudukan Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir yang menerima wahyu langsung dari Allah.
Momen Isra Miraj juga menjadi pengingat bagi umat Islam tentang pentingnya kedekatan dengan Allah, kesabaran dalam menghadapi ujian hidup, serta keteguhan dalam menjalankan ajaran agama.

