Empat pekan lebih pascabanjir dan longsor melanda Kabupaten Bireuen, luka bencana belum sepenuhnya sembuh. Aktivitas ekonomi warga masih terseok-seok, sementara kebutuhan hidup harian terus mendesak tanpa menunggu pemulihan sempurna.
Mayoritas warga terdampak kini memilih kembali ke rumah masing-masing, meski sebagian besar hunian masih jauh dari kata layak. Bertahan lama di posko pengungsian bukan pilihan realistis, terlebih tanpa kepastian penghasilan. Hidup harus terus berjalan, sekalipun di tengah sisa lumpur dan puing bencana.
Dengan peralatan seadanya, warga membersihkan lumpur setinggi sekitar 70 sentimeter secara manual menggunakan cangkul. Pembersihan dilakukan bertahap—dimulai dari satu kamar agar bisa digunakan untuk tidur bersama keluarga, lalu berlanjut ke ruangan lain. Sementara pekarangan rumah nyaris tak tersentuh tanpa bantuan alat berat.
Di tengah kondisi tersebut, secercah harapan datang dari Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Simalungun, Munawal Hadi, SH, MH, yang menyalurkan bantuan paket sembako kepada warga korban banjir di Bireuen.
Bantuan ini diharapkan dapat menopang kebutuhan sementara warga, agar mereka bisa lebih fokus membersihkan dan menata kembali rumah tanpa dihantui kecemasan soal kebutuhan pokok.
“Bantuan sembako terbatas ini saya berikan supaya mereka terbantu sementara waktu, dan pikirannya fokus di rumah saja, tidak bercampur aduk,” ujar Munawal Hadi, Kamis (1/1/2025).
Tak hanya sembako, bantuan juga dilengkapi dengan pakaian serta perlengkapan salat. Bantuan ibadah tersebut menjadi simbol kepedulian agar kehidupan spiritual warga tetap terjaga di tengah keterbatasan pascabencana.
Distribusi bantuan dilakukan oleh Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Bireuen, menyasar warga yang benar-benar membutuhkan.
Salah satu penerima bantuan, Renia, warga Bandar Baru, Kecamatan Kota Juang, mengungkapkan rasa haru dan terima kasihnya. Ia menampung sepuluh anggota keluarganya dari Aceh Tamiang yang rumahnya rusak akibat banjir.
“Alhamdulillah, bantuan sembako ini sangat meringankan kewajiban saya,” ucap Renia dengan mata berkaca-kaca.
Renia diketahui menjadi tulang punggung keluarga bagi dua anak yatim peninggalan almarhum suaminya yang wafat lima tahun lalu. Di tengah situasi pascabencana yang belum pulih, bantuan tersebut menjadi penyangga penting agar keluarganya dapat bertahan sembari perlahan bangkit.
Nama Munawal Hadi sendiri bukan sosok asing bagi masyarakat Bireuen. Selama dua tahun sembilan bulan menjabat sebagai Kajari Bireuen, ia meninggalkan rekam jejak kinerja yang kuat dan membekas.
Di bawah kepemimpinannya, Kejaksaan Negeri Bireuen menjelma menjadi salah satu satuan kerja paling berprestasi di Aceh, baik dalam penegakan hukum maupun pelayanan publik. Usai menorehkan berbagai capaian, Munawal Hadi kemudian dipercaya mengemban tugas baru sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Simalungun.
Di tengah lumpur yang belum kering dan kehidupan yang belum pulih, kepedulian menjadi pengingat bahwa negara masih bisa hadir—bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat empati dan aksi nyata.