Di tengah tekanan ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Efarina menyuarakan keprihatinan sekaligus seruan moral kepada pemerintah agar tidak membiarkan rakyat menghadapi berbagai persoalan ekonomi seorang diri. Pada Minggu 14 Juni 2026.
Presiden Mahasiswa Universitas Efarina menegaskan bahwa kondisi bangsa saat ini tidak dapat lagi dipandang sebagai persoalan biasa. Melemahnya daya beli masyarakat, ketidakpastian ekonomi, keresahan terhadap arah kebijakan negara, hingga kekhawatiran generasi muda terhadap masa depan menjadi tantangan yang membutuhkan respons nyata dari para pemangku kebijakan.
Menurutnya, persoalan ekonomi bukan sekadar angka statistik atau grafik yang terpampang di ruang-ruang pemerintahan. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya beban hidup, sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan semakin beratnya perjuangan kelompok ekonomi kecil untuk bertahan.
“Mahasiswa bukan generasi yang hanya mampu membaca keadaan, tetapi harus menjadi generasi yang berani mengambil sikap terhadap keadaan. Kampus bukan ruang untuk mematikan keberanian berpikir, melainkan tempat lahirnya kepedulian terhadap persoalan rakyat,” tegasnya.
BEM Universitas Efarina menilai bahwa suara mahasiswa merupakan bagian penting dari demokrasi. Kritik yang disampaikan bukanlah bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan wujud pengawasan agar jalannya pemerintahan tetap berada pada koridor kepentingan rakyat.
Sebagai bentuk sikap organisasi, BEM Universitas Efarina menyampaikan empat tuntutan utama. Pertama, mendesak pemerintah mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi masyarakat dari dampak tekanan ekonomi. Kedua, meminta evaluasi terhadap kebijakan yang berpotensi menambah beban rakyat serta memastikan keberpihakan kepada masyarakat kecil. Ketiga, mendorong pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas bersama mahasiswa dan masyarakat sipil dalam menentukan arah kebijakan bangsa. Keempat, mengajak seluruh mahasiswa Pematangsiantar-Simalungun untuk kembali menghidupkan budaya kritis melalui diskusi, kajian, dan gerakan intelektual.
BEM Universitas Efarina juga menyerukan kepada seluruh mahasiswa agar tidak membiarkan semangat perjuangan mahasiswa hanya menjadi catatan sejarah. Kampus, menurut mereka, harus tetap menjadi pusat lahirnya gagasan, kritik, dan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
“Kami tidak turun karena kebencian. Kami bergerak karena tanggung jawab. Kami tidak mencari kekuasaan, tetapi menjaga agar kekuasaan tidak lupa kepada rakyat,” ujar Presiden Mahasiswa Universitas Efarina.
Dari Pematangsiantar-Simalungun, mahasiswa Universitas Efarina menyerukan persatuan pemikiran, penguatan solidaritas, dan komitmen bersama untuk mengawal masa depan bangsa agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.

