Kanker payudara telah menjadi kanker yang paling sering didiagnosis di seluruh dunia. Meskipun kesadaran akan penyakit ini telah meningkat selama bertahun-tahun, sebuah studi yang dilakukan oleh Estee Lauder Companies yang bermitra dengan Nielsen telah menunjukkan bahwa jalan yang harus ditempuh masih panjang, terutama di Asia.
“Pada tahun 1992, kanker payudara tidak dibicarakan secara terbuka dan pengetahuan tentang penyakit ini terbatas. Tapi Evelyn Lauder (menantu perempuan Estee Lauder) ingin mengubahnya,” kata Margaret Chooi, direktur pelaksana afiliasi Perusahaan Estee Lauder di Singapura, dilansir dari Tatler Asia.
Lauder sangat bersemangat akan hal ini dan memulai kampanye kanker payudara perusahaan. Dia juga ikut berpartisipasi dalam merancang simbol pita merah muda yang kini menjadi simbol kanker payudara internasional.
Dilansir Tatler Asia, meningkatkan pengetahuan tentang kanker payudara merupakan inti dari misi kampanye kanker payudara ELC dan merupakan pendorong di balik proyek-proyek seperti penelitian yang dilakukan pada bulan September 2022. Studi tersebut melakukan survei terhadap enam ribu perempuan berusia 25 hingga 49 tahun di 12 pasar di Asia Pasifik, termasuk Australia, Indonesia, Jepang, Hong Kong, Malaysia, Filipina, dan Singapura.
Salah satu tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi guna membantu mengarahkan upaya pendanaan di masa mendatang dan untuk berbagi informasi dengan LSM mitra. Di antara statistik, yang paling mengejutkan adalah sebanyak 55 persen perempuan di Indonesia menemukan bahwa mereka menderita kanker payudara secara kebetulan
.
Setelah bekerja dengan Breast Cancer Foundation di Singapura selama beberapa waktu dan melakukan percakapan anekdotal dengan penyintas kanker payudara, ELC telah menyadari pentingnya mendukung kesehatan mental bagi mereka.
Pada bulan Januari 2023, perusahaan membantu membuka Ruang Citra Positif di Pusat Kanker Payudara, sebuah fasilitas yang didirikan oleh Yayasan Kanker Payudara di Singapura. Kamar ini menawarkan kesempatan kepada pasien untuk memakai rambut palsu, mengakses layanan perawatan kulit, dan makeover untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka.
Beberapa mitos seputar kanker payudara terus bertahan di seluruh Asia dan banyak stigma dan rasa malu melingkupi penyakit ini. “Jika Anda melihat kesalahpahaman, yang sebenarnya cukup jelas bagi saya adalah bahwa seperlima perempuan di Asia-Pasifik secara keliru meyakini bahwa mengenakan bra kawat meningkatkan risiko kanker payudara,” kata Chooi.
“Kesalahpahaman ini sangat tinggi di antara orang Filipina sebesar 42 persen dan orang Indonesia sebesar 30 persen,” lanjutnya.
Chooi menambahkan bahwa laporan tersebut menggarisbawahi fakta bahwa kanker payudara tetap menjadi tabu budaya yang menghalangi orang untuk mendiskusikan atau mengakui penyakit tersebut. Bahkan di Jepang, sebanyak 67 persen responden menyatakan tidak percaya diri untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri.
Kebutuhan akan dukungan ekstra bagi pasien kanker payudara adalah sesuatu yang menonjol dalam laporan tersebut. Mayoritas perempuan yang disurvei di Asia menunjukkan bahwa akan sangat membantu jika pasangan mereka lebih sadar tentang penyakit ini.
“Pendidikan tentang kanker payudara sangat penting bagi perempuan maupun pria. Meski cenderung kecil, pria juga berisiko terkena kanker payudara,” kata Chooi.
Chooi mengungkapkan bahwa ibu dan beberapa temannya mengidap kanker payudara. Berdasarkan pembelajarannya dari studi dan pekerjaan ELC selama bertahun-tahun, dia mengatakan itu bermuara pada perawatan diri yang berarti pemeriksaan diri.
“Perempuan di usia dua puluhan harus memulai pemeriksaan diri yang nantinya akan menjadi sebuah kebiasaan. Sangat baik jika pemeriksaan diri dimulai sejak awal,”