Dalam rangka memperingati kematian Yesus Kristus, umat Kristiani sangat menghormati tiga hari suci (Tri Suci) dalam satu rangkaian penting menuju Hari Paskah. Hari Tri Suci ini terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Hari Paskah.
Perayaan Jumat Agung menjadi salah satu dari rangkaian yang sangat sakral bagi semua umat Kristiani. Jumat Agung merupakan peringatan wafatnya Yesus Kristus yang jatuh pada Hari Jumat.
Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (7/4) berikut adalah makna Jumat Agung selengkapnya.
Jumat Agung juga merupakan satu rangkaian dari Hari Raya Paskah yang digelar setelah Kamis Putih dan sebelum Minggu Paskah. Beberapa kegiatan dilakukan pada saat rangkaian tersebut seperti berpuasa, kebaktian dan mendengarkan khotbah, doa, hingga lagu pujian untuk mengenang Yesus.
Hari Jumat Agung juga telah dilakukan sejak berabad-abad. Bukti sejarah pada abad ke-4 seorang wanita kaya yang berziarah ke Kota Yerusalem menulis catatan saat ia melakukan perjalanan ke Yerusalem saat Palm Sunday.
Penyebutan Jumat Agung dalam Bahasa Inggris yaitu Good Friday. Kata “good” dapat diartikan sebagai “baik” atau “suci”. Ahli bahasa dan sejarawan tak jarang memperdebatkan teori penyebutan Hari Jumat Tuhan yang mendatangkan kebaikan. Meski begitu, banyak yang menganggap kedua hal tersebut tidak ada hubungannya.
Makna Jumat Agung yang pertama memberi pelajaran semua umat Kristiani sadar akan adanya pengampunan dari Tuhan. Pengorbanan Yesus menjadi cara Tuhan memperlihatkan rasa cintanya kepada semua umat manusia.
Kisah Yesus semasa hidup sering memperlihatkan pentingnya kasih dalam kehidupan. Bahkan ia senang membantu dan mengasihi orang yang ada di sekelilingnya. Sampai ia mati pun, ia berdoa kepada Allah Bapa untuk mengampuni semua yang membunuhnya.
Lukas 23:34 berbunyi:
“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Makna kasih selalu ditanamkan dalam diri semua umat Kristen. Dengan memberikan kasih kepada sesama, kasih itu akan terus mengalir dan tersebar kepada seluruh umat manusia. Yesus sendiri tidak mengajarkan kebencian dan kejahatan kepada orang lain.
Yohanes 12:34-35 yang berbunyi:
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku , yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Makna Jumat Agung kedua adalah mengajarkan penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Siapapun orang yang ingin mengikuti Yesus Kristus, akan menanggung beban dan penderitaannya.
Matius 16:24 yang berbunyi:
“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Menjadi umat kristiani tidak menjanjikan kehidupan yang nyaman dan tenang. Banyak tantangan kehidupan yang akan dilalui. Hal tersebut yang Yesus katakan sebagai “salib” dan siap memikul segala beban dan penderitaanya.
Peringatan Jumat Agung juga dapat memberi pesan penting untuk menganggap penderitaan bukanlah akhir, namun awal perjalanan dalam upaya kita memaknai hidup
Makna Jumat Agung ketiga adalah membentuk mentalitas pemenang dalam melewati tantangan dan rintangan hidup. Seseorang akan berhasil melangkah ke tingkat selanjutnya jika mampu melewatinya.
Pelajaran penting dari peringatan ini adalah untuk belajar dari masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tidak lari dari masalah, kita akan memiliki pengalaman yang membuat kita lebih bijaksana dalam menjalani hidup.
Orang yang sudah memiliki mental pemenang akan terus berusaha kerasa mencapai tujuan. Ia akan selalu bersukacita bila mampu melewati semua tantangan hidup.
Perayaan Jumat Agung juga menjadi momen bagi umat Kristen membentuk diri memiliki mentalitas pemenang. Sikap meneladani Yesus dapat membuat hidup kita tidak akan pernah sia-sia.
Dari berbagai sumber,(ist/dhev/sc)