Kuliner lokal Samosir mendapat dorongan baru untuk berkembang lebih profesional. Sebanyak 30 pelaku usaha kuliner dinyatakan kompeten dalam Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Okupasi Cook yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif di Gedung Creative Hub Samosir, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Rabu (21/10/2026).
Sertifikasi yang dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Jana Dharma Indonesia berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat daya saing kuliner daerah.

Bagi para pelaku usaha, sertifikat kompetensi tersebut bukan sekadar pengakuan atas keterampilan memasak, melainkan modal untuk meningkatkan profesionalisme, memperluas peluang usaha, dan membawa kuliner khas Samosir menembus pasar yang lebih luas.
Kegiatan ini merupakan puncak rangkaian program flagship Aktivasi Creative Hub 2026 di Samosir, yang diawali dengan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) selama tiga hari, pada 18–20 Oktober 2026. Melalui program tersebut, peserta memperoleh pembekalan yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Sariaman Manik: Sertifikasi Menjadi Modal untuk Memajukan Kuliner Samosir
Di antara peserta yang mengikuti program ini, Sariaman Leone Manik, pemilik usaha Manik Brothers Coffee, menilai sertifikasi kompetensi sebagai bekal penting untuk meningkatkan kualitas usaha kuliner di Samosir.
Ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pengembangan pelaku usaha kuliner lokal, termasuk dengan menghadirkan program pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Buat saya, ini adalah salah satu modal ke depannya untuk meningkatkan kuliner kami di Samosir,” ujar Sariaman.
Menurutnya, perkembangan industri kuliner membutuhkan keterbukaan terhadap inovasi dan pengetahuan baru. Karena itu, ia berharap pemerintah terus menghadirkan berbagai inovasi dan pengalaman dari luar daerah agar pelaku usaha lokal dapat beradaptasi dengan perkembangan industri.
“Sehingga kami yang berada di Samosir bisa beradaptasi dan meningkatkan kualitas kulinernya,” katanya.
Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan pelaku usaha di daerah: bukan hanya memperoleh pelatihan sesaat, tetapi juga mendapatkan akses terhadap inovasi, peningkatan keterampilan, dan pembinaan yang mampu mendorong usaha mereka berkembang secara berkelanjutan.

Kompetensi Diuji Langsung Melalui Praktik Memasak
Uji sertifikasi berlangsung melalui praktik atau unjuk kerja. Peserta dibagi menjadi dua kloter untuk memperlihatkan kemampuan mereka, mulai dari proses pengolahan bahan hingga penyajian hidangan di hadapan asesor.
Sejumlah menu yang diujikan meliputi gulai daging sapi, ayam balado, mi gomak, talam gurih, dan pancake.
Asesmen tersebut mengacu pada 19 unit kompetensi dalam Skema Okupasi Cook yang telah dipelajari peserta selama pelatihan bersama trainer Minta Harsana dan Slamet Supriyanto.
Materi kompetensi mencakup kebersihan area kerja, keamanan pangan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pengembangan menu, pengolahan unggas dan daging, hingga keterampilan pastry dan bakery.
Melalui pengujian langsung ini, peserta tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan standar kerja profesional dalam kegiatan pengolahan makanan.
Asesor Apresiasi Antusiasme Peserta
Semangat para pelaku kuliner Samosir selama proses asesmen turut mendapat apresiasi dari tim asesor.
Asesor kompetensi, Wahyu Utomo, mengaku terkesan dengan antusiasme peserta hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
“Melihat senyum peserta yang dinyatakan kompeten memberi energi positif bagi semua. Antusiasme peserta sungguh luar biasa. Big applause untuk panitia dan tim support dari Ekraf. Rasa capek terbayar lunas. Horas Samosir!” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan asesor Nur Aulia Wijayanti. Ia menilai Samosir memiliki potensi kuliner yang besar, didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kemauan untuk terus belajar dan berkembang.
“Hal yang paling berkesan bagi saya adalah melihat semangat dan kesungguhan para peserta dalam menunjukkan kemampuan terbaiknya. Samosir punya banyak potensi kuliner dan orang-orang hebat yang siap berkembang,” katanya.
Penilaian tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan ekonomi kreatif di Samosir. Potensi bahan pangan lokal, kekayaan kuliner Batak, dan kreativitas pelaku usaha dapat menjadi kekuatan apabila didukung keterampilan, standar kualitas, serta inovasi yang konsisten.

Kementerian Ekraf Dorong Pembinaan Berkelanjutan
Upaya pengembangan kapasitas pelaku kuliner tidak berhenti pada pelatihan dan sertifikasi. Seluruh 30 peserta juga telah terdaftar di platform SIAPkerja dan Ekraf Hub sebagai bagian dari pendataan untuk mendukung pembinaan ekonomi kreatif secara berkelanjutan.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif, R. Adi Mukhtar Rivai, saat membuka kegiatan pada Minggu (18/10/2026), menegaskan bahwa sertifikat kompetensi memiliki arti penting bagi masa depan pelaku ekonomi kreatif.
“Sertifikat kompetensi ini bukan sekadar kertas, tapi paspor untuk teman-teman bisa naik kelas, masuk ke industri, membuka lapangan kerja, dan bersaing di tingkat nasional bahkan global,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peningkatan kompetensi perlu diarahkan pada peluang yang lebih konkret, mulai dari peningkatan mutu produk dan pelayanan, pengembangan usaha, hingga terbukanya kesempatan memasuki pasar yang lebih luas.
Program Aktivasi Creative Hub 2026 sendiri dilaksanakan Kementerian Ekraf di 21 lokasi Creative Hub. Program ini bertujuan mendekatkan layanan dan program kementerian kepada pelaku ekonomi kreatif di berbagai daerah sekaligus mengoptimalkan Creative Hub sebagai ruang kolaborasi, pembelajaran, dan pengembangan talenta.
Bagi Samosir, sertifikasi 30 pelaku kuliner ini menjadi langkah awal untuk memperkuat fondasi industri kuliner lokal. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang telah diakui tersebut berbuah pada peningkatan kualitas produk, daya saing usaha, dan peluang ekonomi yang semakin luas.
Dengan perpaduan potensi kuliner khas daerah, semangat pelaku usaha, serta dukungan pembinaan yang berkesinambungan, kuliner Samosir memiliki peluang untuk berkembang lebih profesional tanpa kehilangan identitas lokalnya.

