Siantar Corner
No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Siantar Corner
  • SMSI
  • danautoba.co.id
  • Siantar
  • Simalungun
  • Dunia
  • Bisnis
  • Future
  • Gallery
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Seremoni
Home Berita
Dokter Forensik Beberkan Fakta Medis Kematian Winda Lorenza Gowasa

Dokter Forensik Beberkan Fakta Medis Kematian Winda Lorenza Gowasa

Editor: Dhev Fretes Bakkara
7 Agustus 2026 | 00:13 WIB
in Berita
ADVERTISEMENT

Dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada jenazah Winda Lorenza Gowasa (WLG), perempuan yang meninggal akibat luka tembak di kepala di Kompleks Bumi Asri, Jalan Asrama, Kecamatan Medan Helvetia, Minggu (2/8) malam. Berdasarkan hasil autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, scientific investigation, serta keterangan para saksi, Polrestabes Medan masih menyimpulkan dugaan kuat bahwa korban meninggal akibat bunuh diri menggunakan senjata api milik mantan suaminya, Brigadir ISH.

Dokter Forensik RS Bhayangkara Medan, Mistar Ritonga, menjelaskan bahwa lebam yang ditemukan pada punggung, kaki, jari, maupun bagian tubuh lainnya bukan merupakan memar akibat kekerasan, melainkan lebam mayat (livor mortis) yang terbentuk secara alami setelah kematian akibat pengaruh gravitasi.

“Itu yang disebut lebam mayat. Lebam mayat adalah penumpukan darah pada bagian tubuh yang berada di posisi paling bawah. Itu proses fisiologis dan berbeda dengan lebam akibat kekerasan yang muncul di lokasi benturan,” ujar Mistar saat memberikan keterangan di Polrestabes Medan, Kamis (6/8).

Menurutnya, lebam pada kedua mata korban juga bukan disebabkan penganiayaan. Kondisi tersebut muncul karena lintasan proyektil mengenai dasar tengkorak hingga menyebabkan pecahnya pembuluh darah pada sirkulus Willis, sehingga darah mengalir ke sekitar kelopak mata dan menimbulkan hematom kacamata.

“Pembuluh darah di dasar tengkorak pecah akibat lintasan peluru sehingga darah mengalir ke sekitar mata. Itu bukan akibat kekerasan dari luar,” jelasnya.

Hasil autopsi juga memastikan luka yang dialami korban merupakan luka tembak tempel, yakni tembakan yang dilepaskan dengan moncong senjata menempel langsung pada kulit. Proyektil masuk melalui sisi kanan kepala, melintasi dasar tengkorak hingga menyebabkan retak tulang tengkorak, kemudian bergerak ke sisi kiri kepala. Setelah kehilangan energi akibat menghantam tulang, peluru tidak mampu menembus keluar dan akhirnya berhenti di bawah kulit sisi kiri kepala.

“Sebelum proyektil dikeluarkan kami melakukan foto rontgen terlebih dahulu untuk memastikan posisinya. Setelah dipastikan, peluru ditemukan berada di bawah kulit sisi kiri kepala dalam kondisi telah berubah bentuk karena menghantam tulang tengkorak,” terang Mistar.

Mistar juga menjelaskan bahwa jahitan pada bagian kepala dan leher merupakan prosedur standar autopsi. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh mulai dari kepala hingga rongga dada dan perut, kemudian seluruh organ dikembalikan ke posisi semula sebelum jenazah dijahit kembali.

Selain itu, tim forensik menemukan bekas luka lama pada lengan kiri korban yang telah berwarna kecokelatan. Namun, selama pemeriksaan tidak ditemukan bekas cekikan maupun tanda-tanda kekerasan lainnya.

“Saat pemeriksaan saya tidak menemukan tanda-tanda kekerasan ataupun bekas cekikan. Yang ada hanya bekas luka lama pada tangan kiri,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Dr. Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan penyelidikan telah mengungkap bahwa luka lama di pergelangan tangan kiri tersebut merupakan luka yang dibuat korban sendiri pada waktu sebelumnya. Polisi telah mengetahui lokasi, waktu, serta saksi yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.

“Bisa kami sampaikan secara tegas agar tidak simpang siur, luka lama yang ada di sayatan lengan pergelangan kiri dilakukan oleh korban sendiri,” kata Jean Calvijn.

Ia menambahkan, kesimpulan sementara penyidik didasarkan pada hasil autopsi, pemeriksaan laboratorium forensik, scientific investigation, analisis tempat kejadian perkara, serta keterangan para saksi yang menguatkan bahwa saat kejadian korban berada seorang diri di dalam kamar mandi dengan posisi tubuh menyandar hingga menutupi pintu.

“Dugaan awal kami menyimpulkan itu adalah bunuh diri. Kesimpulan tersebut diperkuat oleh hasil autopsi, laboratorium forensik, scientific investigation, olah TKP, dan seluruh keterangan saksi yang telah kami periksa. Namun demikian, penyidikan masih terus berjalan untuk melengkapi seluruh alat bukti dan memastikan seluruh rangkaian peristiwa secara komprehensif,” ujar Jean Calvijn.

| BERITA TERBARU

Berita

Dokter Forensik Beberkan Fakta Medis Kematian Winda Lorenza Gowasa

7 Agustus 2026 | 00:13 WIB
Berita

260 Kg Sabu, 67 Kg Ganja dan 92.682 Butir Ekstasi Disita dalam 300 Hari Kinerja Polrestabes Medan

6 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Berita

GSR Korban Positif, Saksi Negatif, Proyektil Identik Revolver .38, Ini Hasil Labfor Winda Lorenza Gowasa

6 Agustus 2026 | 20:01 WIB
Siantar

Heboh di Jalan Darussalam, Pria Tiba-Tiba Terjatuh Saat Perbaiki Kendaraan, Polsek Siantar Martoba Sigap Amankan TKP

6 Agustus 2026 | 15:53 WIB
Siantar

Heboh di Jalan Darussalam, Pria Tiba-Tiba Terjatuh Saat Perbaiki Kendaraan, Polsek Siantar Martoba Sigap Amankan TKP

6 Agustus 2026 | 15:51 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2017-2026 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara fons infamis sport

No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga

© 2017-2026 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara fons infamis sport