Lingkungan boleh saja berkali-kali dirusak, tetapi semangat untuk memperbaikinya tidak boleh ikut berhenti.
Pesan penuh keteguhan itu menjadi gambaran komitmen Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pematangsiantar dalam menghadapi persoalan lingkungan dan pengelolaan sampah yang membutuhkan kerja bersama serta konsistensi tanpa batas.
“Biarpun 2.000 kali lingkungan dirusak oleh manusia yang tidak bertanggung jawab, kami akan tetap berusaha memperbaikinya setiap hari.”
Pernyataan tersebut menjadi semangat dalam langkah DLH Kota Pematangsiantar yang terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Dipimpin Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pematangsiantar Arri Suaswandhy Sembiring, S.STP., M.Si., DLH berkolaborasi dengan Waste4Change menggelar Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Selasa (8/9/2026).
Forum tersebut dihadiri unsur DPMPTSP, Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kota Pematangsiantar, Bappeda, kader lingkungan, serta perwakilan perusahaan lintas sektor se-Kota Pematangsiantar.
Bukan sekadar forum seremonial, pertemuan ini menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, menyatukan komitmen, sekaligus mendorong keterlibatan dunia usaha dalam menjawab persoalan sampah di Kota Pematangsiantar.
Pasalnya, persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan perusahaan, komunitas, dan masyarakat untuk membangun pola pengelolaan sampah yang dimulai dari sumber hingga proses akhir.

Dorong Dunia Usaha Ambil Peran
Dalam forum TJSL tersebut, berbagai pendekatan inovatif dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular (circular economy) turut menjadi perhatian.
Konsep ini mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah. Bukan hanya sesuatu yang harus dibuang, tetapi bagaimana sampah dapat dikurangi sejak awal, digunakan kembali, dikelola, bahkan memiliki nilai ekonomi.
Salah satu fokus yang didorong adalah pengurangan sampah dari sumber. Dunia usaha diharapkan mampu menekan timbulan sampah dari kegiatan operasional sekaligus menerapkan praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.
Selanjutnya, program TJSL/CSR perusahaan juga diarahkan agar tidak hanya berhenti pada kegiatan sosial, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengelolaan lingkungan, termasuk melalui dukungan infrastruktur dan edukasi masyarakat.
Tak kalah penting, forum ini mendorong lahirnya kemitraan berkelanjutan antara pemerintah, perusahaan, komunitas, dan masyarakat.
Dengan kemitraan yang kuat, pengelolaan sampah diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur dan terintegrasi.

Bersih Bukan Sekadar Slogan
Komitmen tersebut menunjukkan bahwa menjaga lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar slogan.
Ketika sampah masih menjadi persoalan, ketika lingkungan masih menghadapi ancaman kerusakan, maka upaya memperbaiki harus tetap berjalan.
Hari ini mungkin satu titik yang dibersihkan. Besok titik lainnya. Begitu seterusnya.
Semangat itulah yang ingin dibangun melalui kolaborasi DLH, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Melalui Forum TJSL ini, setiap perusahaan diharapkan mampu menemukan ruang kontribusinya dalam membangun rantai pengelolaan sampah yang lebih baik, mulai dari hulu hingga hilir.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga lingkungan bukan hanya diukur dari seberapa banyak sampah yang berhasil diangkut, tetapi juga dari seberapa kuat kesadaran bersama untuk mengurangi sampah dan mencegahnya kembali mencemari lingkungan.
DLH Kota Pematangsiantar pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bergandengan tangan dan bergerak bersama.
Sebab, lingkungan yang bersih dan sehat bukan hanya kebutuhan hari ini.
Ia adalah warisan yang sedang dipersiapkan untuk generasi berikutnya.
Dari Pematangsiantar, langkah itu terus dimulai: bijak mengelola sampah, menjaga lingkungan, dan menjadikan Pematangsiantar sebagai Rumah Kita.

