Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mendorong mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) untuk mempersiapkan diri sebagai generasi yang berpendidikan, berkarakter, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Pesan tersebut disampaikan Sigit saat memberikan kuliah umum dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UMSU 2026 di Kampus Utama UMSU, Kota Medan, Sumat
era Utara, Senin (28/9/2026).
Kuliah umum tersebut diikuti 6.027 mahasiswa baru dari berbagai bidang pendidikan, mulai dari agama, pendidikan, sosial-politik, pertanian, ekonomi, hukum, teknik, ilmu komputer dan teknologi informasi, kedokteran, hingga jenjang pascasarjana dan doktoral.
Dalam paparannya, Sigit mengatakan generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan Indonesia. Momentum bonus demografi yang diproyeksikan berlangsung pada 2030–2035 menjadi peluang besar apabila diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, bonus demografi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya jumlah penduduk usia produktif. Potensi tersebut harus diiringi pendidikan berkualitas, peningkatan keterampilan, penciptaan lapangan kerja, kemampuan beradaptasi, serta penguasaan teknologi.
Karena itu, mahasiswa diminta tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan memperoleh gelar, tetapi juga membangun kapasitas diri sebagai calon pemimpin dan bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
“Tahun 2045 merupakan panggung pembuktian bagi kalian dalam memimpin Indonesia,” ujar Sigit.
Adaptif Menghadapi Perubahan
Sigit mengajak mahasiswa memandang perubahan bukan semata-mata sebagai tantangan, tetapi juga sebagai ruang untuk tumbuh, berinovasi, berkarya, dan mengambil peran.
Perubahan tersebut berlangsung di berbagai bidang, mulai dari perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dinamika geopolitik, perubahan sosial dan ekonomi, hingga persoalan lingkungan dan perubahan iklim.
Menurut Sigit, kondisi tersebut membutuhkan generasi yang mampu membaca arah perubahan sekaligus mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Pemimpin masa depan, lanjutnya, harus memiliki kemampuan beradaptasi, inovasi, kolaborasi, serta keberanian mengambil tanggung jawab. Kemampuan tersebut perlu dibangun sejak mahasiswa melalui proses pembelajaran dan pengalaman di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Sigit juga mendorong mahasiswa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung cepat membuat seseorang perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
“Bangun karakter dan integritas, kuasai teknologi secara bijak dan produktif, berani berkarya serta mengambil peran di tengah masyarakat,” pesan Sigit.
Bijak Menggunakan Teknologi dan AI
Dalam kuliah umum tersebut, Sigit turut menyoroti perkembangan teknologi digital dan AI yang menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi generasi muda.
Kemajuan teknologi membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar, melakukan penelitian, mengembangkan kreativitas, berinovasi, membangun usaha, dan memperluas akses terhadap berbagai sumber pengetahuan.
Namun, perkembangan ruang digital juga diikuti dengan munculnya berbagai bentuk kejahatan dan ancaman, seperti penipuan daring, pencurian data, phishing, judi online, hoaks, disinformasi, deepfake, hingga kejahatan yang memanfaatkan teknologi AI.
Karena itu, penguasaan teknologi harus disertai dengan karakter, integritas, dan literasi digital. Mahasiswa diingatkan agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab.
Sigit juga mengingatkan bahwa tingginya penggunaan internet dan media sosial di Indonesia perlu diimbangi kemampuan masyarakat dalam memilah informasi.
Dalam paparannya, ia menyebut data Digital News Report 2026 yang mencatat 64 persen responden di Indonesia memperoleh berita melalui media sosial, sementara 48 persen menjadikan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama informasi.
Kondisi tersebut, menurut Sigit, membuat kemampuan berpikir kritis semakin penting. Mahasiswa harus mampu memeriksa informasi sebelum mempercayai, menyebarkan, atau menjadikannya dasar untuk mengambil tindakan.
Ia juga menyoroti fenomena bandwagon effect, yaitu kecenderungan seseorang mengikuti pandangan atau tindakan karena banyak orang melakukan hal yang sama. Di ruang digital, fenomena tersebut dapat mempercepat penyebaran informasi yang keliru, membentuk sentimen publik, serta memicu tindakan kolektif yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban.
Selain hoaks dan disinformasi, ruang digital juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai tindak kejahatan, termasuk penipuan berkedok lowongan kerja luar negeri, perdagangan orang, serta peredaran narkoba dan penyebaran paham ekstrem.
Karena itu, Sigit mengajak mahasiswa menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab sekaligus ikut menciptakan ruang digital yang sehat.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
Sigit juga menempatkan mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki peran penting sebagai agen perubahan.
Menurutnya, ilmu pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh di perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti di lingkungan akademik. Mahasiswa perlu mengimplementasikan pengetahuan tersebut untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Menjadi agen perubahan, menginisiasi dan mengajak masyarakat melakukan perubahan positif serta berpartisipasi dalam pembangunan,” ujar Sigit.
Kontribusi mahasiswa dapat dilakukan sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Bentuknya antara lain mendukung ketahanan pangan dan energi, mendorong transformasi digital, mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat, menjaga lingkungan, serta menciptakan inovasi dan kewirausahaan.
Mahasiswa juga didorong untuk melihat kewirausahaan sebagai salah satu ruang kontribusi. Selain menciptakan peluang bagi diri sendiri, kegiatan tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Jaga Persatuan dan Keamanan
Selain menjadi agen perubahan, mahasiswa diharapkan berperan sebagai pelopor keamanan dan ketertiban masyarakat atau kamtibmas serta perekat persatuan.
Sigit meminta mahasiswa ikut menjaga kerukunan, menghargai perbedaan, menangkal hoaks dan provokasi, serta mengajak masyarakat menjauhi narkoba, kekerasan, intoleransi, dan tindakan anarkis.
“Menjaga kerukunan, menangkal hoaks dan provokasi, serta mengajak masyarakat menjauhi narkoba, kekerasan, intoleransi, dan tindakan anarkis,” pesan Sigit.
Peran tersebut, menurutnya, semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat.
Mahasiswa diharapkan tidak menjadi bagian dari penyebaran konten yang memecah belah, tetapi justru menggunakan ruang digital untuk memperkuat persatuan, menyebarkan informasi yang bermanfaat, serta membangun komunikasi yang sehat.
Jalankan Tridarma Perguruan Tinggi
Di lingkungan kampus, Sigit mendorong mahasiswa menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mahasiswa juga diminta membangun budaya akademik yang sehat, menjaga integritas, mengembangkan kompetensi, serta mengejar prestasi di bidang masing-masing.
Lingkungan kampus, menurut Sigit, menjadi tempat penting untuk membentuk karakter dan kepemimpinan. Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan masa perkuliahan untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Kehidupan kampus juga harus dijaga agar tetap aman dan kondusif. Mahasiswa didorong menolak narkoba, kekerasan, perundungan, intoleransi, serta berbagai tindakan yang dapat mengganggu persatuan.
Menyiapkan Generasi Indonesia Emas 2045
Sigit mengatakan seluruh potensi Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas agar dapat diubah menjadi kekuatan pembangunan dan kesejahteraan.
Selain bonus demografi, Indonesia memiliki sumber daya alam dan potensi ekonomi yang besar. Namun, pemanfaatan potensi tersebut membutuhkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, integritas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Di tengah lingkungan strategis global yang terus berubah, Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perkembangan geopolitik, tekanan ekonomi, perubahan iklim, hingga akselerasi teknologi dan AI.
Situasi tersebut menuntut hadirnya pemimpin yang mampu memahami persoalan secara komprehensif, beradaptasi dengan perubahan, membangun kolaborasi, serta tetap memiliki arah dan integritas dalam mengambil keputusan.
Karena itu, Sigit mengajak mahasiswa mulai mempersiapkan diri sejak bangku kuliah. Masa pendidikan tidak hanya menjadi perjalanan untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga proses menempa kemampuan, karakter, kepemimpinan, dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab.
Mahasiswa UMSU diharapkan mampu mengembangkan ilmu dan keterampilan sesuai bidang masing-masing, memanfaatkan teknologi secara bijak, berani berinovasi, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan bekal tersebut, generasi muda tidak hanya dipersiapkan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta peluang, penggerak pembangunan, dan pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan positif.
Sigit berharap mahasiswa baru UMSU dapat memanfaatkan masa perkuliahan sebagai momentum untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia.
Dari ruang-ruang pendidikan hari ini, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ilmu, karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara menuju Indonesia Emas 2045.
