PEMATANGSIANTAR – Kedekatan dengan tokoh agama dan komitmen merawat kerukunan antarumat beragama menjadi modal penting dalam membangun Kota Pematangsiantar. Kepemimpinan Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi SH MKn, bahkan mendapat apresiasi dari kalangan ulama karena dinilai mampu merangkul berbagai elemen lintas agama dan kepercayaan.
Apresiasi tersebut disampaikan Tuan Guru Batak (TGB), Syekh Dr H Ahmad Sabban El-Rahmanly Rajagukguk, dalam acara Ramah Tamah Tokoh dan Ulama Kota Pematangsiantar di kediaman H Ahmad Ridwansyah Putra, Jalan Melanthon Siregar, Gang Cantik Manis, Sabtu (31/10/2026) siang.
Dalam paparannya, TGB menilai kedekatan seorang kepala daerah dengan ulama, tokoh agama, dan tokoh lintas iman merupakan modal besar untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Beliau (Wali Kota) dekat dengan ulama-ulama, bahkan dengan tokoh lintas agama. Bagi kita ini modal besar,” ungkapnya.
Penilaian tersebut menjadi gambaran pentingnya komunikasi dan hubungan baik antara pemerintah daerah dengan para pemuka agama dalam menjaga persatuan serta memperkuat toleransi di tengah keberagaman masyarakat.
Sebelumnya, Wali Kota Wesly Silalahi dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Ahmad Ridwansyah Putra yang telah menggagas pertemuan tersebut.
Menurut Wesly, kegiatan ramah tamah seperti ini memiliki makna penting. Tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membuka ruang untuk saling mengenal lebih dekat, bertukar pikiran, dan mempererat tali persaudaraan.
“Kita semua tentu menginginkan Pematangsiantar menjadi kota yang aman, damai, dan masyarakatnya hidup rukun. Untuk mewujudkan itu, tentu bukan hanya tugas pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Wesly.
Didampingi Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar, Ny Liswati Wesly Silalahi, ia menegaskan bahwa tokoh agama dan ulama memiliki peran strategis dalam membimbing masyarakat untuk senantiasa berbuat baik, saling menghormati, menjaga persaudaraan, serta menciptakan suasana kehidupan yang damai.
Wesly juga mengajak seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk terus menjaga komunikasi serta membangun kebersamaan. Ia memastikan Pemko Pematangsiantar terbuka terhadap berbagai masukan, saran, dan pemikiran demi kemajuan daerah.
“Saya juga berharap komunikasi dan kebersamaan seperti ini terus kita jaga. Pemerintah Kota Pematangsiantar sangat terbuka terhadap masukan, saran, dan pemikiran dari para tokoh agama maupun tokoh masyarakat demi kemajuan kota yang kita cintai ini,” tuturnya.
Sementara itu, anggota DPR RI, Dr H Sugiat Santoso SE MSP, menyampaikan optimismenya terhadap masa depan Kota Pematangsiantar di bawah kepemimpinan Wesly Silalahi.
Ia meyakini Pematangsiantar memiliki potensi besar untuk meraih peringkat pertama Indeks Kota Toleran (IKT) se-Indonesia.
“Apalagi, syarat-syarat sebagai kota yang akan maju/sukses, itu ada di Kota Pematangsiantar,” tegasnya.
Optimisme tersebut menjadi dorongan bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga keberagaman, memperkuat kerukunan, dan membangun lingkungan sosial yang inklusif.
Pertemuan yang diawali dengan makan siang bersama itu berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintahan turut hadir memperkuat semangat kebersamaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut tuan rumah Ahmad Ridwansyah Putra, Sekretaris Umum MUI Provinsi Sumatera Utara Prof Dr H Ardiansyah Lc MA, Ketua MUI Kota Pematangsiantar Drs HM Ali Lubis, anggota DPRD Kota Pematangsiantar Nurlela Sikumbang, perwakilan unsur Forkopimda, Dewan Pengawas Perumda Air Minum Tirta Uli Ilal Mahdi Nasution SHI, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Uli Arianto ST MM, serta Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pematangsiantar Drs HM Natsir Armaya Siregar.
Pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa kerukunan bukan sekadar slogan, melainkan harus dirawat melalui komunikasi, keteladanan, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Dengan dukungan ulama dan tokoh lintas agama, Pematangsiantar diharapkan semakin kokoh sebagai kota yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi persaudaraan. (*)

