Siantar Corner
No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Siantar Corner
  • SMSI
  • danautoba.co.id
  • Siantar
  • Simalungun
  • Dunia
  • Bisnis
  • Future
  • Gallery
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Seremoni
Home Berita Siantar
FASI XIII Sumut di Pematangsiantar: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kolaborasi Lintas Iman dalam Peradaban Islam

FASI XIII Sumut di Pematangsiantar: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kolaborasi Lintas Iman dalam Peradaban Islam

Editor: Dhev Fretes Bakkara
6 Juni 2026 | 07:15 WIB
in Siantar
ADVERTISEMENT

Kota Pematangsiantar bersiap menjadi tuan rumah Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Sumatera Utara yang akan digelar pada 20–24 Juni 2026. Ajang ini tidak sekadar kompetisi keislaman bagi anak-anak, tetapi juga ruang pembinaan karakter, penguatan nilai Qur’ani, serta simbol kebersamaan dalam bingkai kebangsaan Indonesia yang majemuk.

FASI XIII Sumut di Pematangsiantar menjadi menarik bukan hanya karena skala kegiatannya, tetapi juga karena semangat inklusif yang menyertainya. Kehadiran Liswati Wesly Silalahi sebagai Ketua Panitia menegaskan bahwa pembinaan generasi Qur’ani tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari tanggung jawab sosial dan pembangunan karakter bangsa.

Dalam pandangan Islam, kerja sama lintas identitas merupakan prinsip yang tegas dan mendasar. Al-Qur’an menegaskan, “Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga tentang etika sosial yang mendorong umat manusia untuk saling membantu dalam kebaikan, tanpa batas sekat suku maupun agama.

Hal serupa ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Keragaman bukan alasan untuk berjarak, melainkan ruang untuk membangun komunikasi, kolaborasi, dan persaudaraan. Ukuran kemuliaan manusia bukan pada identitas sosialnya, melainkan pada ketakwaannya.

Dalam sejarah peradaban Islam, jejak kontribusi lintas iman juga tidak bisa diabaikan. Salah satu contohnya adalah arsitek Friedrich Silaban, seorang Kristen yang merancang Masjid Istiqlal Jakarta, masjid terbesar di Asia Tenggara. Ia bahkan mempelajari tata ibadah Islam agar rancangan bangunan sesuai dengan kebutuhan umat. Berdampingannya Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral menjadi simbol kuat toleransi Indonesia.

Pada masa klasik Islam, kontribusi komunitas Kristen Nestorian dan Suryani juga sangat besar dalam penerjemahan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab melalui Baitul Hikmah di Baghdad. Dari proses ini lahir tradisi intelektual Islam yang kemudian memengaruhi pemikiran tokoh-tokoh besar seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Kindi. Dalam bidang kedokteran, banyak dokter istana pada masa Abbasiyah berasal dari komunitas Kristen, yang keahliannya menjadi fondasi perkembangan ilmu medis Islam.

Tokoh seperti Yohanes dari Damaskus juga menunjukkan adanya dialektika intelektual awal antara Islam dan Kristen yang memperkaya khazanah pemikiran di Timur Tengah. Sementara pada era modern, tokoh-tokoh seperti Jurj Zaidan dan Butrus al-Bustani dari tradisi Kristen Arab turut menggerakkan kebangkitan intelektual Arab (Nahda) melalui pendidikan, literasi, dan pers.

Semua fakta sejarah ini menunjukkan satu hal penting: peradaban Islam tumbuh bukan dalam ruang yang tertutup, tetapi dalam interaksi, kolaborasi, dan kontribusi lintas iman.

Dalam konteks kekinian, FASI XIII Sumut di Pematangsiantar menjadi kelanjutan dari tradisi tersebut. Kehadiran Ibu Liswati Wesly Silalahi sebagai ketua panitia tidak hanya dipandang sebagai peran sosial, tetapi juga sebagai representasi keterlibatan pemerintah daerah dalam memastikan pembinaan generasi muda berjalan dengan baik, terarah, dan berkelanjutan.

Sebagai Ketua Panitia, ia menjadi bagian dari upaya negara dalam memastikan pendidikan karakter berbasis nilai Qur’ani berjalan seiring dengan semangat kebangsaan. FASI tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga bagian dari pembangunan manusia Indonesia menuju visi besar Indonesia Emas 2045—manusia yang beriman, berakhlak, dan mampu hidup harmonis dalam keberagaman.

Pada akhirnya, FASI XIII bukan sekadar festival. Ia adalah ruang pertemuan nilai-nilai Qur’ani, kebangsaan, dan sejarah panjang kolaborasi lintas iman dalam membangun peradaban. Dari Pematangsiantar, pesan itu kembali ditegaskan: bahwa membangun generasi Qur’ani berarti juga membangun bangsa yang damai, terbuka, dan beradab.

| BERITA TERBARU

Siantar

FASI XIII Sumut di Pematangsiantar: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kolaborasi Lintas Iman dalam Peradaban Islam

6 Juni 2026 | 07:15 WIB
Simalungun

Tiga Pria Ditangkap, Polisi Sita Sabu dan Bong di Desa Parbeokan

5 Juni 2026 | 15:38 WIB
Regional

Jumat Berkah, Sat Brimob Polda Sumut Bagikan 200 Paket Makan Gratis untuk Jamaah Shalat Jumat

5 Juni 2026 | 15:32 WIB
Siantar

Kapolres Pematangsiantar Diwakili Kabag Log Hadiri Penyambutan Jamaah Haji Kota Pematangsiantar Tahun 1447 H/2026

5 Juni 2026 | 15:28 WIB
Siantar

Wesly Silalahi Galakkan Jumpa Berlian, Drainase Persawahan di Bah Sorma Dibersihkan

5 Juni 2026 | 15:17 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2017-2024 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara berita sport

No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga

© 2017-2024 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara berita sport