Siantar Corner
No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Siantar Corner
  • SMSI
  • danautoba.co.id
  • Siantar
  • Simalungun
  • Dunia
  • Bisnis
  • Future
  • Gallery
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Seremoni
Home Berita

Luka Psikologis Anak-Anak di Balik Pengerukan Rumah di Tepi Danau Toba

Editor: Dhev Fretes Bakkara
29 Januari 2025 | 21:36 WIB
in Berita
ADVERTISEMENT

Peristiwa pengerukan tanah yang terjadi pada Senin (21/1/2025) di Desa Unjur, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, telah meninggalkan luka mendalam bagi keluarga Darma Sari Ambarita. Rumah mereka kini dikelilingi parit besar akibat pengerukan yang dilakukan, mengubah tempat tinggal yang seharusnya menjadi tempat perlindungan menjadi pulau kecil yang terisolasi.

Namun, dampak paling menyedihkan dari insiden ini bukan hanya kondisi rumah yang terkurung, tetapi trauma yang dialami kedua anak Darma Sari Ambarita dan istrinya, Rettina Sihotang. Anak-anak yang sebelumnya hidup dalam keceriaan kini dihantui ketakutan setiap hari.

Mirisnya hal itu itu dilakukan oleh keluarega mereka sendiri ,

Darma mengungkapkan, tindakan tersebut dilakukan oleh T.A., seorang warga Pematangsiantar yang masih memiliki hubungan keluarga.

“Kami berasal dari garis keturunan yang sama. Rumah ini adalah warisan orang tua saya sejak 1982, tetapi sejak mereka meninggal, T.A. mulai mengklaim tanah ini sebagai miliknya pada tahun 2019,” ujar Darma kepada wartawan, Senin (20/1/2025).

“Setiap kali anak-anak saya mendengar suara keras, mereka langsung menangis ketakutan. Mereka tak bisa lagi tidur dengan tenang, seolah-olah setiap suara yang datang adalah ancaman,” ujar Rettina dengan suara bergetar. Dulu, kedua putrinya biasa bermain riang di halaman rumah, tetapi kini mereka lebih banyak mengurung diri, enggan keluar karena takut pada parit yang mengelilingi rumah mereka.

Dampak psikologis yang dialami anak-anak ini begitu nyata. Parit besar yang mengurung rumah mereka bukan sekadar galian tanah, tetapi telah menjadi jurang ketakutan yang mengintimidasi. Setiap hujan yang turun atau suara tanah bergerak menambah kecemasan keluarga ini, terutama bagi anak-anak yang kini selalu merasa tidak aman.

Rettina menuturkan bahwa anak-anaknya mulai menunjukkan tanda-tanda trauma. Mereka sering terbangun di malam hari karena mimpi buruk dan menjadi lebih pendiam dari biasanya. “Mereka takut rumah ini akan ambruk atau paritnya semakin dalam. Mereka bertanya apakah suatu hari nanti mereka bisa keluar dengan aman,” tambahnya.

Tak hanya keluarga Darma Sari Ambarita, masyarakat sekitar juga ikut prihatin dengan kondisi ini. Beberapa warga menyatakan bahwa kejadian pengerukan yang terjadi terlalu mendadak dan kurang mempertimbangkan keselamatan keluarga yang terdampak. Selain itu, mereka juga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah terkait dampak psikologis yang dialami anak-anak akibat kejadian ini.

Pemerintah daerah telah menerima laporan mengenai insiden ini, tetapi hingga kini, belum ada tindakan konkret untuk mengatasi kondisi keluarga Rettina. Sementara itu, masyarakat sekitar berupaya memberikan dukungan moral agar keluarga ini tidak merasa sendirian menghadapi situasi sulit ini.

Bagi Rettina, harapannya sederhana: ia hanya ingin anak-anaknya kembali merasa aman di rumah mereka sendiri. “Saya ingin mereka bisa bermain seperti dulu, tanpa harus merasa takut setiap saat,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak dari sebuah bencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Trauma yang dialami anak-anak ini bisa berdampak jangka panjang jika tidak segera ditangani. Pemerintah, psikolog, dan masyarakat diharapkan bisa bersinergi untuk membantu keluarga ini, bukan hanya dalam hal pemulihan fisik rumah mereka, tetapi juga dalam memulihkan rasa aman dan kebahagiaan anak-anak yang terenggut oleh kejadian tragis ini.

 

| BERITA TERBARU

Regional

Dedikasi dan Pengabdian Brimob Sumut Tuai Apresiasi, Wakapolda Tegaskan: Selalu Hadir dan Terdepan untuk Masyarakat

25 Juni 2026 | 17:33 WIB
Berita

HUT Bhayangkara ke-80 Meriah, 18 Tim Satkamling Adu Strategi di Kejuaraan Catur Kapolres Sibolga Cup

25 Juni 2026 | 17:22 WIB
Berita

Kapolrestabes Medan Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Ketua FPRB Kota Medan

25 Juni 2026 | 10:53 WIB
Siantar

Jelang HUT Bhayangkara ke-80, Polsek Siantar Barat Antar Bantuan Langsung ke Rumah Warga Kurang Mampu

25 Juni 2026 | 10:23 WIB
Siantar

Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polres Pematangsiantar Tebar Kepedulian di Dua Panti Asuhan

25 Juni 2026 | 10:20 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2017-2026 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara berita hoax sport

No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga

© 2017-2026 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara berita hoax sport