Ramadan seharusnya membawa ketenangan. Namun, di dua sudut kota, ketegangan justru merayap di antara kerumunan remaja. Waktu merangkak menuju tengah malam, ketika suara knalpot dan langkah-langkah resah menyatu dalam gelap.
Tapi sebelum bentrokan sempat terjadi, Polres Pematangsiantar sudah bergerak. Sabtu (1/3), pukul 23.30 WIB, Tim Khusus (Timsus) bersiap dalam patroli Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD). Saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 00.00 WIB, laporan masyarakat membawa mereka ke Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Bah Kapul. Di sana, tujuh remaja yang diduga akan tawuran terjebak dalam kepungan petugas. Beberapa masih sempat menoleh ke kanan dan kiri, mencari celah kabur, tapi semuanya akhirnya tak berkutik.
Belum usai, 30 menit berselang, laporan lain masuk. Kali ini di Jalan Wahidin Ade Irma, Kelurahan Dwikora. Timsus kembali bergerak cepat, menemukan sembilan remaja lain yang hampir terjebak dalam arus kekerasan. Semua dibawa ke Mako Polres Pematangsiantar.
Di kantor polisi, wajah-wajah yang semula menyimpan amarah kini meredup. Beberapa menunduk, mungkin menyesali, mungkin masih mencoba memahami bagaimana mereka sampai di sini. Satuan Binmas memberi pembinaan. Pukul 03.00 WIB, apel konsolidasi digelar. Orang tua mulai berdatangan, membawa pulang anak-anak mereka yang nyaris terseret ke dalam lingkaran kekerasan.
“Ke-16 remaja yang diamankan akan dibina dan menandatangani surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan serupa,” ujar IPTU Agustina Triyadewi, PS. Kasi Humas Polres Pematangsiantar.
Malam itu, tawuran tak jadi pecah. Ramadan tetap berjalan damai. Namun, pertanyaan menggantung di udara: akankah ini benar-benar menjadi yang terakhir?

