Di bawah terik matahari yang menggantung di langit Siantar, suara lantang para pedagang eks Gedung IV Pasar Horas menggema di Jalan Merdeka. Mereka bukan sekedar berteriak, mereka menyanyikan kemarahan dan kekecewaan , berharap suaranya menembus tembok balai kota yang mereka anggap bisu terhadap nasib mereka.
Pagi itu, Kamis (6/3/2024), pukul 10.00 WIB, ruas jalan di Simpang Jalan Wahidin, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Siantar Barat, berubah menjadi panggung protes. Para pedagang yang tergabung dalam Komunitas Pedagang Pasar Horas (KP2H) menutup akses jalan, menuntut kehadiran Walikota Wesly Silalahi. Mereka ingin kepastian: kapan Gedung IV dibangun kembali? Di mana mereka akan direlokasi? Bagaimana pembagian tempatnya nanti?

Namun, jawaban tak kunjung datang. Yang hadir hanya petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub), yang berusaha mengurai kemacetan dengan menutup Jalan Merdeka dan mengalihkan arus ke Jalan Sudirman serta Jalan Bandung. Sementara itu, di tengah terik yang semakin menyengat, orasi terus berkumandang dari atas mobil pikap.
“Wesly tidak pro pedagang kecil!” seru Johannes Sakti Sembiring, Ketua Jaringan Kemandirian Nasional (Jaman), lewat pengeras suara. “Buktinya, setelah dilantik, dia malah meresmikan pusat perbelanjaan modern dan meninjau stadion, tapi tak sekalipun datang menemui kami!”
Di antara kerumunan, Agus Butar-butar, Ketua KP2H, berdiri tegap. Suaranya bergelombang, penuh emosi. “Sejak kami berjualan di tepi jalan, pembeli semakin sepi. Dagangan kami tak hanya sulit laku, tapi juga sering dicuri maling!”

Sebagai bentuk perlawanan, mereka bernyanyi. Lagu sederhana yang diiringi gerakan tubuh penuh semangat, “Walikota Wesly, Walikota Wesly, mana gayamu? Walikota Wesly, Walikota Wesly, dukung pedagang!”
Mereka menolak dipindahkan jauh dari Pasar Horas. Jika harus direlokasi, mereka hanya mau ke Jalan Imam Bonjol, yang masih berada di sekitar pasar. “Kami akan tetap bertahan di sini!” seru Agus.
Aksi berlangsung hingga pukul 13.00 WIB. Tak ada perwakilan pemerintah yang datang, tak ada janji yang terucap dari mereka yang berwenang. Namun, satu hal yang pasti: pedagang kembali ke kios darurat mereka, tetap dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Sementara itu, Jalan Merdeka kembali terbuka, seperti tak pernah ada protes di sana. Tapi di dada para pedagang, bara tuntutan masih menyala.

