Siantar Corner
No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
No Result
View All Result
Siantar Corner
  • SMSI
  • danautoba.co.id
  • Siantar
  • Simalungun
  • Dunia
  • Bisnis
  • Future
  • Gallery
  • Hiburan
  • Lifestyle
  • Seremoni
Home Berita Siantar
Pemko Pematangsiantar dan BI Perkuat Sistem Peringatan Dini Inflasi, Wesly Dorong Kebijakan Cepat Berbasis Data

Pemko Pematangsiantar dan BI Perkuat Sistem Peringatan Dini Inflasi, Wesly Dorong Kebijakan Cepat Berbasis Data

Editor: Dhev Fretes Bakkara
7 Juli 2026 | 15:43 WIB
in Siantar
ADVERTISEMENT

Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar bersama Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah antisipasi gejolak harga pangan melalui pengembangan Early Warning System (EWS) Cik Laila atau Cek Informasi Kebutuhan Pengendalian Inflasi Terintegrasi. Sistem ini diharapkan menjadi instrumen strategis untuk mendeteksi potensi kenaikan harga sejak dini sehingga kebijakan pengendalian inflasi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

 

Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Early Warning System (EWS) Cik Laila Kota Pematangsiantar yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar, Jalan H. Adam Malik, Selasa (7/7/2026).

 

Kegiatan dibuka oleh Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdako Subrata Nata Lumbantobing SSTP MSP.

 

Dalam sambutan tertulis Wali Kota yang dibacakan Subrata, Wesly mengapresiasi seluruh pihak yang telah menginisiasi pengembangan sistem peringatan dini sebagai upaya memperkuat pengendalian inflasi daerah berbasis data, analisis, dan kolaborasi.

 

Menurutnya, stabilitas harga kebutuhan pokok memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga yang tidak terkendali dapat menurunkan daya beli, meningkatkan angka kemiskinan, mengganggu aktivitas ekonomi, hingga memicu persoalan sosial.

 

“Pengendalian inflasi tidak boleh hanya dilakukan ketika harga sudah melonjak. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan mendeteksi gejala sejak dini agar langkah antisipatif bisa segera dilakukan,” ujar Wesly.

 

Ia menegaskan, keberadaan Early Warning System (EWS) menjadi sangat penting karena mampu menyajikan informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami oleh para pengambil kebijakan. Sistem tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi komoditas yang mulai mengalami kenaikan harga, gangguan pasokan, hingga potensi tekanan inflasi pada periode berikutnya.

 

Wesly juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, perangkat daerah, pengelola pasar, hingga akademisi untuk memperkuat sinergi dalam penyediaan data, validasi informasi, penyusunan indikator, dan rekomendasi kebijakan.

 

Ia berharap hasil FGD tidak berhenti sebatas diskusi, tetapi mampu melahirkan sistem yang aplikatif, berkelanjutan, dan menjadi dasar pengambilan kebijakan Pemerintah Kota Pematangsiantar.

 

Selain menjadi alat pemerintah, EWS juga diharapkan dapat menjadi media informasi yang transparan bagi masyarakat dan pelaku usaha sehingga meningkatkan kepercayaan publik terhadap kebijakan pengendalian inflasi daerah.

 

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar Ahmadi Rahman mengatakan, FGD tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui sistem pemantauan harga yang lebih cepat, presisi, dan berbasis data.

 

Ia mengungkapkan, inflasi Kota Pematangsiantar pada periode terakhir mengalami deflasi sebesar 0,07 persen (month to month). Meski demikian, tekanan inflasi tahunan, khususnya pada kelompok volatile food, tetap perlu diwaspadai karena sangat dipengaruhi kondisi pasokan.

 

Menurut Ahmadi, BI telah mengembangkan dashboard EWS berbasis Microsoft Excel yang memanfaatkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) untuk memantau harga harian berbagai komoditas.

 

Selain itu, sistem juga menggunakan metode Alert for Price Spikes (ALPS) yang mampu mendeteksi potensi lonjakan harga berdasarkan tren, pola musiman, serta deviasi harga sehingga keputusan pengendalian inflasi dapat dilakukan lebih objektif dan terukur.

 

Pemanfaatan teknologi Python juga memungkinkan penyajian grafik dan indikator harga yang memudahkan TPID membaca kondisi pasar serta menentukan langkah seperti operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, inspeksi pasar, hingga penyusunan strategi komunikasi publik.

 

Ke depan, EWS diharapkan menjadi instrumen utama dalam mendukung kebijakan pengendalian inflasi yang lebih responsif, adaptif, dan berbasis bukti, sejalan dengan visi Kota Pematangsiantar sebagai kota yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.

 

FGD tersebut juga menghadirkan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Rulianda Purnomo Wibowo SP M.Ec, sebagai narasumber.

| BERITA TERBARU

Simalungun

Bukan Sekadar Seremonial, Robert Hidayat Desak Kapolres Simalungun Buktikan Perang terhadap Judi dan Narkoba

14 September 2026 | 11:02 WIB
Berita

Polres Sibolga Panaskan Mesin Operasi Sikat Toba 2026, Personel Ditempa Sebelum Turun ke Lapangan

14 September 2026 | 10:38 WIB
Siantar

Polsek Siantar Utara Perkuat Siskamling, Warga Diminta Waspada 3C

13 September 2026 | 22:33 WIB
Siantar

Jalan Jawa Disambangi, Polsek Siantar Barat Tegaskan Narkoba Musuh Negara

13 September 2026 | 14:58 WIB
Siantar

Pastikan SPBU Aman, Sat Samapta Polres Pematangsiantar Pantau Stok BBM di Dua Lokasi

13 September 2026 | 10:54 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2017-2026 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara fons infamis sport

No Result
View All Result
  • Berita
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Dunia
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga

© 2017-2026 Siantarcorner.com

rotasi barak news berita hari ini sumatera utara fons infamis sport