PEMATANGSIANTAR – Konferensi VIII Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Pematangsiantar Tahun 2026 tidak sekadar memilih nahkoda baru. Forum tersebut menjadi momentum menegaskan kembali posisi pers sebagai kekuatan penting dalam mengawal pembangunan, menyuarakan kepentingan masyarakat, sekaligus menjaga kualitas demokrasi di tengah derasnya arus informasi digital.
Dalam konferensi yang digelar di Hotel Batavia, Jalan Gereja Pematangsiantar, Jumat (14/08/2026), Rahayu terpilih sebagai Ketua PWI Kota Pematangsiantar Masa Bakti 2026-2029. Pengurus terpilih kemudian dikukuhkan Ketua PWI Provinsi Sumatera Utara (Sumut) H Farianda Putra Sinik SE.
Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn, melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Subrata Nata Lumbantobing SSTP MSP, menghadiri pembukaan konferensi yang mengusung tema “Bersama PWI Wujudkan Profesionalisme Pers yang Bermartabat di Era Digital.”
Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Subrata, Wesly menegaskan konferensi PWI bukan hanya forum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi dan memilih kepengurusan baru.
Lebih dari itu, konferensi merupakan momentum memperkuat komitmen wartawan agar menjalankan tugas jurnalistik secara profesional, independen, berimbang, dan bertanggung jawab.
Pers Bukan Sekadar Penyampai Berita
Wesly menyebut pers memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.
“Pers bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat,” kata Wesly.
Melalui pemberitaan yang objektif dan konstruktif, wartawan dinilai dapat ikut mengawal pembangunan, menyampaikan aspirasi masyarakat, sekaligus memberikan edukasi kepada publik.
Karena itu, Wesly meminta PWI dan seluruh wartawan di Pematangsiantar tetap berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik, melakukan verifikasi informasi, serta mengutamakan pemberitaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Karena itu, saya berharap PWI dan seluruh wartawan di Kota Pematangsiantar dapat terus menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik, melakukan verifikasi terhadap informasi, serta mengedepankan pemberitaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Pemerintah Butuh Kritik Pers
Wesly juga membuka ruang yang lebih luas bagi hubungan antara Pemko Pematangsiantar dan insan pers.
Menurutnya, pemerintah membutuhkan kritik, masukan, dan kontrol dari pers. Sebaliknya, pemerintah memiliki kewajiban membuka ruang komunikasi serta menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Dengan hubungan yang sehat, pemerintah dan pers dapat berjalan beriringan untuk membangun Pematangsiantar yang semakin maju, nyaman, dan bermartabat.
Kepada siapa pun yang mendapat amanah memimpin PWI Pematangsiantar, Wesly berpesan agar kepemimpinan tersebut dijalankan sebagai tanggung jawab, bukan sekadar jabatan organisasi.
Ia berharap PWI semakin solid, profesional, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pers dan pembangunan daerah.
Wesly juga mengingatkan seluruh peserta konferensi agar mengedepankan suasana kekeluargaan dan demokratis.
“Perbedaan pilihan merupakan hal yang biasa dalam sebuah organisasi, tetapi persatuan dan kebersamaan harus tetap menjadi yang utama,” pesannya.
Farianda: Jangan Ada Fitnah, Jangan Ada Bully
Ketua PWI Sumut Farianda Putra Sinik memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan konferensi PWI Pematangsiantar.
Ia menyebut PWI Pematangsiantar merupakan salah satu kebanggaan PWI Sumut. Terlebih, organisasi tersebut selama dua periode sebelumnya dipimpin oleh perempuan.
Farianda berharap konferensi berlangsung lancar dan tidak diwarnai kegaduhan. Menurutnya, perbedaan dalam organisasi harus menjadi bagian dari proses demokrasi untuk kemudian disatukan kembali demi kepentingan organisasi.
Ia juga menyampaikan pesan sederhana yang disebutnya sebagai pegangan untuk menjalani kehidupan: komunikasi, silaturahmi, berbagi, dan hati-hati.
“Jangan sombong,” pesannya saat menekankan pentingnya komunikasi.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan memiliki konsekuensi.
“Apa yang diperbuat, pasti kembali kepada kita. Tuhan tidak tidur. Ibarat Garuda dipatok elang, tetap terbang tinggi. Jadi tetap berbuat baik,” tukasnya.
Farianda Ingin Konferensi PWI Sumut Jadi yang Terbaik
Farianda juga menyinggung rencana Konferensi PWI Provinsi Sumatera Utara yang akan digelar tahun ini.
Ia berharap konferensi tersebut dapat menjadi yang terbaik di Indonesia sekaligus menjadi contoh bagi daerah lainnya.
Farianda menekankan pentingnya demokrasi yang terbuka dalam proses organisasi.
“Buka selebar-lebarnya kepada peserta, jangan dihalang-halangi, jangan ada fitnah, dan jangan dibully. Agar demokrasi hidup di Sumut,” katanya.
Surati: PWI Adalah Rumah Bersama
Ketua PWI Kota Pematangsiantar periode 2023-2026 Surati menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pihak yang telah mempersiapkan konferensi.
Ia berpesan kepada ketua terpilih agar melanjutkan program-program PWI yang belum terlaksana.
“Anggap PWI sebagai rumah bersama. Kepada calon ketua, agar bertarung secara fair. Jangan terpecah sesama anggota PWI, tetap guyub, damai, dan menjaga kebersamaan,” pesan Surati.
Sementara itu, Ketua Panitia Roida Siahaan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan konferensi.
Rahayu Resmi Nahkodai PWI Pematangsiantar
Setelah melalui proses konferensi, Rahayu resmi terpilih sebagai Ketua PWI Kota Pematangsiantar Masa Bakti 2026-2029.
Pengurus yang baru terpilih kemudian dikukuhkan oleh Ketua PWI Sumut Farianda Putra Sinik.
Dengan terpilihnya kepengurusan baru, PWI Pematangsiantar memasuki periode baru dengan tantangan yang juga semakin besar. Di tengah derasnya arus informasi digital, wartawan dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, independen, beretika, dan mampu mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disampaikan kepada publik.
Konferensi tersebut turut dihadiri perwakilan unsur Forkopimda dan sejumlah undangan lainnya.
Kini tantangan Rahayu dan jajaran bukan sekadar menjaga eksistensi PWI, tetapi membuktikan bahwa pers tetap menjadi pilar penting demokrasi: kritis tanpa kehilangan etika, independen tanpa kehilangan tanggung jawab, dan dekat dengan masyarakat tanpa kehilangan profesionalisme.

