Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi SH MKn didampingi Ketua TP PKK Ny Liswati Wesly Silalahi menghadiri acara Halal Bihalal Yayasan Gerakan Sumatera Utara Bergiat dan Ikatan Alumni Magister Studi Pembangunan (IKA MSP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU). Acara digelar oleh Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso SH MSP di Hotel Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention Kota Medan, Sabtu (04/04/2026).
Pada kegiatan tersebut, Wesly bersama Sugiat Santoso, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara Dr Harli Siregar SH MHum, serta sejumlah kepala daerah, menyerahkan bantuan 500 paket sembako kepada anak yatim piatu.
Sebelum acara dimulai, Wesly terlihat berbincang akrab dengan Sugiat dan Tuan Guru Batak Syekh Dr H Ahmad Sabban El-Rahmaniy Rajagukguk MA.
Acara juga dihadiri anggota DPR RI Musa Rajekshah dan Maruli Siahaan, pimpinan DPRD kabupaten/kota, serta para pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta.
Usai kegiatan, Wesly menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesempatan berkolaborasi dalam pemberian tali asih kepada anak yatim piatu. Ia menilai semangat gerakan yang diinisiasi Sugiat selaras dengan komitmen Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam melayani masyarakat.
“Apresiasi dan terima kasih kepada anggota DPR RI Sugiat Santoso yang juga penggerak Yayasan Gerakan Sumatera Utara Bergiat dan Ketua IKA MSP FISIP USU. Tentu semangat ini selaras dengan Pemerintah Kota Pematangsiantar yang hadir untuk masyarakat,” ujarnya.
Wesly juga menegaskan bahwa program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto sangat relevan dengan visi dan misi Pemko Pematangsiantar dalam mewujudkan masyarakat Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras.
“Momentum Halal Bihalal ini diharapkan memperkuat silaturahmi kita, terlebih program-program Sugiat Santoso yang berdampak bagi masyarakat,” kata Wesly.
Sementara itu, Sugiat Santoso menjelaskan bahwa Halal Bihalal tersebut merupakan gabungan kegiatan Yayasan Gerakan Sumut Bergiat dan IKA MSP FISIP USU. Ia juga memaparkan konsep Teori GIAT yang menjadi bagian dari disertasinya di USU, yaitu Gerakan, Inklusif, Akar (Mengakar), dan Tumbuh.
Sugiat menuturkan bahwa jabatan bersifat sementara dan gerakan sosial harus memiliki akar kuat dalam masyarakat. Ia mengingat pesan orang tuanya tentang pentingnya ingat asal-usul dan menjalani hidup dengan falsafah yang membumi.
“Asal usul saya rakyat. Orang tua saya petani. Tidak boleh karena jabatan saya menjadi elit. Jabatan itu sementara. Oleh karena itu, gerakan harus memiliki akar yang kuat,” ujarnya.
Ia berharap seluruh peserta yang hadir memiliki semangat gerakan yang GIAT dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan semua yang tergabung di sini memiliki semangat gerakan yang kuat, filosofi hidup yang inklusif, memiliki akar yang kuat, dan bisa memberikan sesuatu bagi masyarakat,” tandasnya. (*)

