Ratusan pedagang dan konsumen daging babi memadati halaman Kantor Wali Kota Medan pada Kamis, (26/02/2026). Mereka menyuarakan penolakan terhadap Surat Edaran Wali Kota Medan Nomor 500-7.1/540 tertanggal 13 Februari 2026 yang mengatur penataan penjualan daging non-halal. Kebijakan tersebut dinilai memberatkan pelaku usaha dan mengancam stabilitas pendapatan para pedagang.
Aksi yang awalnya berlangsung panas itu perlahan mencair setelah Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak, S.I.K., M.H., turun langsung mengendalikan situasi. Bukan dengan pengerahan kekuatan, tetapi melalui pendekatan persuasif dan humanis yang membuat ribuan massa merasa dihargai.
Sejak awal aksi, Kombes Jean Calvijn mendekati para koordinator lapangan untuk memastikan jalannya unjuk rasa tetap tertib. Ia kemudian mengajak perwakilan massa berdialog langsung dengan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, sebagai langkah membuka komunikasi yang lebih konstruktif. Kapolrestabes turut mendampingi mereka masuk ke ruang rapat Pemko Medan.
Saat dialog dimulai, suasana masih tegang. Nada bicara perwakilan aksi terdengar tinggi dan ruangan terasa kaku. Melihat itu, Jean Calvijn mengambil langkah yang tidak lazim dalam situasi demonstrasi: ia meminta seluruh peserta menundukkan kepala dan berdoa bersama. Doa singkat tersebut seketika mengubah atmosfer ruangan yang semula penuh tekanan menjadi lebih teduh dan menghangatkan hati semua yang hadir.
Usai doa, dialog berlangsung lebih jernih. Para perwakilan massa yang terdiri dari organisasi lintas suku Batak, Nias, dan Karo, para pedagang daging babi, Aliansi Konsumen Daging Babi Indonesia, Majelis Umat Kristen Sumatera Utara, GAMKI Kota Medan, hingga Horas Bangso Batak (HBB), menyampaikan keluhan dan keberatan mereka. Mereka menilai surat edaran tersebut tidak memiliki urgensi kuat dan justru berpotensi menimbulkan masalah ekonomi bagi ribuan keluarga.
Ketua Umum HBB, Lamsiang Sitompul, SH, dalam dialog tersebut menegaskan bahwa kebijakan yang diterbitkan Pemko tidak tepat sasaran. Ia menilai ada banyak persoalan kota yang jauh lebih mendesak untuk ditangani, seperti banjir yang telah memakan korban jiwa, tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Sumatera Utara yang kini berada di peringkat pertama secara nasional, maraknya aksi begal yang terjadi hampir setiap hari, hingga persoalan limbah B3 dan rayap besi yang kian meresahkan masyarakat. Lamsiang juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran kepolisian yang mampu menjaga suasana tetap kondusif dan profesional selama aksi berlangsung.
Setelah dialog selesai dan aspirasi disampaikan, Kombes Jean Calvijn kembali turun ke tengah massa. Dengan suara menenangkan, ia menyampaikan hasil pertemuan dan mengimbau warga agar kembali ke tempat masing-masing dengan tertib. Ia menjelaskan bahwa seluruh proses berjalan baik, diawali doa dan diakhiri doa, serta memastikan petugas Lantas siap mengawal kepulangan massa.
Sikap hormat Kapolrestabes itu disambut tepuk tangan para demonstran. Massa yang sebelumnya tegang kini tampak lebih tenang. Sebelum meninggalkan lokasi, Jean Calvijn kembali menyampaikan terima kasih atas kedewasaan para peserta aksi yang telah menjaga Kota Medan tetap kondusif.
Aksi unjuk rasa berakhir damai tanpa insiden. Ribuan massa kembali ke rumah masing-masing dengan tertib, sementara jajaran Polrestabes Medan menutup kegiatan pengamanan dengan aman. Pendekatan empati dan komunikasi yang dipimpin Jean Calvijn menjadi contoh bahwa dialog, keteduhan, dan rasa hormat mampu meredam ketegangan dalam situasi paling penuh tekanan sekalipun.

