Hari Buruh biasanya dipenuhi dengan suara-suara perlawanan, tuntutan upah layak, dan harapan hidup yang lebih manusiawi. Tapi tahun ini rasanya beda. Bukan cuma soal tuntutan yang belum selesai, tapi juga soal duka yang belum kering. Kecelakaan tragis KRL di Bekasi pada 27 April 2026 itu seperti tamparan keras. Di tengah kita memperingati perjuangan buruh, justru nyawa para pekerja yang sebagian besar perempuan—melayang. Mereka bukan sekadar angka. Mereka ibu, anak, tulang punggung keluarga.
Saya Yoseph Siburian, seorang mahasiswa di Pematangsiantar, membaca berita ini dari Kompas.com dengan perasaan campur aduk. Miris, marah, dan kecewa. Dari 16 korban meninggal, banyak di antaranya perempuan. Bahkan ada yang baru saja melahirkan. Bayangkan, di satu sisi mereka berjuang mencari nafkah, di sisi lain mereka juga memikul peran sebagai ibu. Tapi negara seolah belum mampu menjamin keselamatan mereka, bahkan dalam perjalanan pulang-pergi kerja yang seharusnya jadi hal paling dasar.
Kalau kita tarik lebih jauh, kondisi ini bukan hal baru. Dari dulu, perempuan sering jadi kelompok paling rentan dalam dunia kerja. Upah lebih rendah, beban ganda, dan risiko keselamatan yang sering diabaikan. Tragedi ini seperti membuka luka lama: bahwa sistem kita masih belum berpihak pada mereka. Kita sering bicara tentang pertumbuhan ekonomi, tapi lupa bahwa ada manusia terutama perempuan yang jadi korban dari sistem yang tidak adil.
Di titik ini, saya jadi teringat Marsinah. Seorang buruh perempuan yang berani melawan ketidakadilan, tapi harus dibayar dengan nyawanya. Puluhan tahun berlalu sejak kematiannya, tapi apakah kondisi buruh—terutama perempuan sudah benar-benar berubah? Atau kita hanya mengganti bentuk ketidakadilannya saja? Dulu Marsinah dibungkam karena melawan, sekarang banyak perempuan “dibungkam” oleh sistem yang lalai menjaga keselamatan mereka.
Kecelakaan ini seharusnya bukan cuma jadi berita lalu hilang. Ini harus jadi bahan refleksi serius, terutama bagi pemerintah. Keselamatan transportasi bukan hal sepele. Ini menyangkut nyawa. Kalau masih ada kelalaian di perlintasan, sistem yang mudah terganggu, dan pengawasan yang lemah, maka yang jadi korban akan terus rakyat biasa para buruh, para perempuan, para ibu.
Hari Buruh seharusnya bukan cuma seremoni. Ini momen untuk jujur melihat realitas. Bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa masih ada ketimpangan, masih ada kelalaian, dan masih ada nyawa yang dipertaruhkan. Dan selama itu masih terjadi, semangat Marsinah seharusnya tetap hidup bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dilanjutkan.

