Platform media sosial X atau Twitter dan Instagram dihebohkan dengan kabar dugaan pembunuhan seorang mahasiswa bernama Aldi Sahilatua Nababan di kosannya yang berlokasi di Kuta Selatan Bali.
Kabar mengenai pembunuhan Aldi disampaikan oleh kakak kandungnya bernama Monalisa Nababan melalui akun Instagram @monalisanababan. Monalisa dalam postingannya menjelaskan bahwa pihak keluarga meminta bantuan Presiden Joko Widodo dan Kapolri untuk memperhatikan kasus pembunuhan Aldi.
Mona mengatakan, pihak keluarga tidak boleh menyaksikan autopsi Aldi yang dilakukan di RS Bhayangkara Medan, padahal keluarga memberikan pilihan untuk diwakilkan oleh dokter yang ditunjuk oleh keluarga.
Namun pilihan itu tidak diterima bahkan ruang bedah dikunci rapat dan dikawal penjaga. Pihak keluarga tidak boleh mendokumentasikan jenazah mulai dari membuka peti hingga autopsi. Pihak keluarga juga memohon kepada Presiden dan Kapolri untuk menangkap dan menghukum pelaku pembunuhan seberat-beratnya.
Profil Aldi Nababan Aldi Nababan adalah mahasiswa berusia 23 tahun yang sedang menempuh pendidikan di kampus pariwisata Elizabeth International. Aldi merantau dari Tapanuli Utara dan sudah berkuliah di Bali selama dua tahun. Menurut pengakuan pihak keluarga, seharusnya dia akan akan menyelesaikan kuliahnya pada Desember tahun ini. Dia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara.
Kakaknya Monalisa mengatakan semasa hidup Aldi adalah orang yang baik, suka berteman, sopan, dan tidak terlalu banyak bicara. Sebelum meninggal dunia Aldi tidak pernah menceritakan hal yang aneh kepada keluarga, dia hanya sesekali bercerita soal asmara. Usai menjalani autopsi, rencanya Aldi akan dimakamkan di Siborongborong.
Kronologi Kasus Pembunuhan Aldi Nababan Aldi ditemukan tewas pada Sabtu, 18 Desember 2023 di dalam kosannya. Penemuan jenazah Aldi berawal dari kecurigaan pemilik kos. Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol Losa Lusiano mengatakan pada Rabu, 22 November 2023, pemilik kos berusaha mengetuk pintu kamar kos Aldi, tapi tidak ada respons. Pada saat itu juga, pemilik kos melihat ada darah keluar dari pintu kamar kos.
Saat ditemukan, kondisi jenazah Aldi sangat mengenaskan, sehingga sangat kuat dugaan bahwa kematian Aldi adalah kasus pembunuhan. “Alat kelamin pecah dan mengeluarkan darah, sekujur tubuh lebam, mulut dan hidung mengeluarkan darah, engsel siku tangan bergeser,” tulis kakak Aldi Monalisa Nababan di akun Instagram @monalisanababan_ Rabu (22/11/2023).
Polresta Denpasar dan Polsek Kuta Selatan melakukan penyelidikan tewasnya mahasiswa Elizabeth International bernama Aldi Sahilatua Nababan. Sebanyak enam saksi telah diperiksa oleh penyidik.
“Penyidik Satreskrim Polresta (Denpasar) dan Polsek Kuta Selatan saat ini telah memeriksa enam saksi,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Bali Kombes Jansen Avitus Panjaitan dalam siaran pers kepada wartawan, Kamis (23/11/2023).
Enam saksi yang diperiksa di antaranya pemilik kamar kos, anak pemilik kos, dua tetangga kamar kos, satu teman korban, dan tukang kunci. Mereka diperiksa setelah Aldi ditemukan tewas mengenaskan di dalam kamar kosnya
Jansen mengungkapkan autopsi jenazah mahasiswa berusia 23 tahun itu telah dilakukan pada Rabu (22/11)2023) di Rumah Sakit Bhayangkara Medan. Polresta Denpasar kini tengah menunggu hasil autopsi tersebut dari tim dokter forensik.
“Gelar perkara akan dilakukan setelah hasil autopsi dikeluarkan oleh Rumah Sakit Bhayangkara TK II Medan dan rencana akan dilanjutkan dengan konferensi pers,” jelas Jansen.
Keluarga Sebut Aldi Dibunuh
Dilansir dari detikSumut, Monalisa Nababan selaku kakak korban mengaku mendapat kabar adiknya tewas di kamar kosnya di Nusa Dua, Bali, pada Sabtu (18/11/2023) sekitar pukul 09.00 WIB. Kala itu, ia ditelepon personel kepolisian dari Polsek Kuta Selatan.
Monalisa pun menghubungi kerabatnya di Bali untuk memastikan kabar kematian Aldi. Setelah itu, ia mendapat infomasi adiknya tewas bersimbah darah.
“Kamarnya bersimbah darah. Alat kelaminnya rusak, semacam ada sobek. Dari situ lah keluar darah. Ada darah di bagian mulut dan hidung juga. Ada memar lengan tangan kanan dan engselnya bergeser. Lantai penuh darah,” ungkapnya.
Menurut Monalisa, keluarga sebenarnya mengajukan autopsi kepada polisi. Namun, ia menilai proses autopsi terhadap jenazah Aldi dipersulit.
“Kami merasa dipersulit dengan pernyataan-pernyataan mereka (polisi). Makanya, kami putuskan mayat dikirim dari Bali ke Medan pada Minggu siang. Jenazah baru tiba di Medan, Senin subuh. Sampai di Medan, baru kami minta diautopsi,” sebutnya.
“Dugaannya adik saya dibunuh secara sadis. Semoga keadilan berpihak dengan kami,” tandas Monalisa.C

