Dewan Pimpinan Cabang GMNI Tapanuli Utara menyoroti keras persoalan distribusi pupuk subsidi yang dinilai jauh dari target dan merugikan petani. Dalam audiensi dengan PT Perseroda Pertanian Kabupaten Tapanuli Utara pada Jumat, 22 Mei 2026, DPC GMNI mengungkap fakta mengejutkan: dari total alokasi 8.467,138 ton, hanya 2.502 ton pupuk yang terealisasi hingga pertengahan Mei.
Ketua DPC GMNI, Daniel Nababan, menyatakan audiensi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap keresahan masyarakat dan petani akibat kelangkaan pupuk yang terus terjadi. “Petani menjerit karena pupuk sulit didapat. Ini bukan masalah sepele, kami hadir membawa suara mereka,” tegasnya.
Dalam diskusi, GMNI menanyakan hambatan distribusi, sementara PT Perseroda menyebut stok di gudang tidak selalu tersedia. Namun hasil kunjungan DPRD Tapanuli Utara ke gudang Belawan pada April 2026 menunjukkan pupuk NPK dan UREA tersedia. Ketidaksinkronan data ini memunculkan pertanyaan serius: apakah Pupuk Indonesia gagal menyediakan atau distributor gagal menyalurkan tepat waktu?
GMNI menegaskan bahwa alokasi pupuk subsidi di Tapanuli Utara tidak pernah mencapai 100 persen, dan menuntut evaluasi serius. Jika pasokan pusat yang bermasalah, alokasi harus disesuaikan. Jika distribusi gagal, distributor harus diganti.
DPC GMNI Tapanuli Utara berkomitmen mengawal kasus kelangkaan pupuk secara berkala dan mengajak masyarakat ikut memantau agar kebutuhan petani terpenuhi dan ketidakadilan dalam distribusi tidak terus berlanjut.

