Di halaman Mako Sat Samapta Polrestabes Medan, deretan toren air, mesin Sanyo, selimut, hingga skop tersusun rapi menunggu diberangkatkan menuju Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Tapanuli Selatan (Tapsel). Bantuan ini bukan sekadar paket logistik, tetapi wujud nyata kepedulian Latsitarda Angkatan 99 bagi masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana.
Kegiatan pelepasan bantuan yang dilaksanakan pada Senin (26/01/2026) tersebut turut dihadiri Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak SIK MH, Kasatgaswil Sumut Densus 88 AT Kombes Pol Didik Novri Rahmanto SIK MH, Kadister Lanud Soewondo Kol Pas Firman Manurung, Danresimen Arhanud I Kol Pas Rudi Hasiholan Aritonang, LO Lanud Kol POM Hari Mhd Ambon, Kadis Ang Letkol Laut (T) Heldi Gustiar, Kadis LHK Pemprov Sumut Heri W. Marpaung SSTP MAP, Kabid Wasnas Kesbangpol Emirat Mahbob Lubis, serta Kabag Persidangan DPRD Sumut Dr. Luthfi Solihin Sirait. Kebersamaan lintas instansi ini menegaskan bahwa penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyampaikan bahwa kehadiran Latsitarda Angkatan 99 mencerminkan semangat kepedulian yang terus dijaga. “Kami dari Latsitarda Angkatan 99 turut berbagi kasih bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Hari ini, Base 99 bersama Parade 08 hadir menyampaikan dukungan bagi masyarakat yang masih berjuang membangun kembali sarana dan prasarana bersama TNI, Polri, dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia juga memahami beratnya tantangan di lapangan. Mulai dari kesulitan air bersih hingga kebutuhan dasar lain yang belum sepenuhnya pulih. Bantuan yang dikirimkan diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan wilayah. “Kami memahami betapa berat perjuangan rekan-rekan di lapangan, baik TNI, Polri, Pemda, maupun warga yang terdampak. Doa kami menyertai. Tuhan memberkati,” tuturnya.
Setelah serangkaian penyampaian pesan dan pengecekan logistik, armada pembawa bantuan diberangkatkan menuju Tapteng dan Tapsel. Keberangkatan ini menjadi simbol bahwa solidaritas tidak pernah berhenti bergerak, bahkan ketika jarak memisahkan.
Di balik kegiatan ini tersimpan pesan reflektif: bahwa kepedulian adalah kekuatan yang mampu menggerakkan banyak pihak untuk memulihkan harapan. Di tengah masa sulit, tangan-tangan yang terulur menjadi pengingat bahwa masyarakat tidak pernah sendiri menghadapi bencana.